Oleh HATOMI
Pimpinan media sumber berita
Focusberita.com
Bangka Selatan-Focusberi.com
Kalau Presiden serius memberantas tambang ilegal di Bangka Belitung, itu tentu patut diapresiasi. Tetapi jangan berhenti pada soal siapa yang menambang, siapa yang ditangkap, dan berapa banyak alat berat yang diamankan.
Ada pertanyaan yang jauh lebih besar dan menyentuh rasa keadilan masyarakat:
Ke mana hasil kekayaan alam Bangka Belitung, dan sudah sejauh mana masyarakat menikmati pembagian hasilnya?
Bangka Belitung bukan hanya tempat mengambil timah. Di tanah ini ada hutan yang rusak, sungai yang tercemar, lahan masyarakat yang berubah, dan lingkungan yang harus dipulihkan.
Kerusakan itu bukan angka di atas kertas. Itu adalah kenyataan yang diwariskan kepada anak cucu masyarakat Bangka Belitung.
Maka ketika negara mengambil kekayaan alam dari bumi Bangka Belitung, masyarakat berhak bertanya:
Apakah pembagian hasil kepada daerah dan masyarakat sudah benar-benar diberikan?
Apakah nilainya sudah adil?
Dan apakah sebanding dengan kerusakan lingkungan yang harus ditanggung masyarakat?
Jangan sampai negara hanya hadir ketika ada tambang ilegal untuk menertibkan dan menyita, tetapi ketika berbicara tentang hak masyarakat atas manfaat kekayaan alam dan pemulihan lingkungan, pertanyaannya justru menjadi sunyi.
Presiden sebaiknya tidak hanya melihat tambang ilegal sebagai persoalan hukum. Lihat juga persoalan keadilan ekonomi, lingkungan dan masa depan rakyat Bangka Belitung.
Kalau kekayaan alam diambil, rakyat harus merasakan manfaatnya. Kalau lingkungan dirusak, negara wajib memastikan pemulihannya. Kalau daerah kehilangan hutan dan ruang hidup, harus ada kompensasi dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.
Sebab pada akhirnya, rakyat tidak ingin kekayaan alamnya hanya menjadi angka dalam laporan penerimaan negara, sementara kerusakan alam menjadi warisan yang mereka tanggung sendiri.
Pak Presiden, berantas tambang ilegal, silakan.
Tetapi bersamaan dengan itu, bukalah dengan terang kepada rakyat Bangka Belitung:
berapa sebenarnya hasil kekayaan alam yang kembali kepada daerah dan masyarakat, melalui mekanisme apa, dan apakah jumlahnya sudah adil dibandingkan dengan kekayaan yang telah diambil serta kerusakan lingkungan yang ditinggalkan?
Karena keadilan bukan hanya tentang menghukum yang salah.
Keadilan juga tentang memastikan pemilik negeri ini—rakyat—tidak hanya kebagian debu, lubang tambang, hutan yang rusak, dan air yang tercemar, sementara kekayaannya dinikmati oleh segelintir orang.
Bangka Belitung tidak meminta belas kasihan. Masyarakat hanya ingin haknya atas kekayaan alam dan lingkungan yang baik benar-benar dihormati.

Social Header