Oleh HATOMI
Pimpinan media sumber berita
Focusberita.com
Hari ini, sebuah pertanyaan pantas kita renungkan:
untuk siapa sebenarnya kemerdekaan itu kita isi?
Ketika sebagian rakyat masih berjuang mencari sesuap nasi, sementara kekayaan alam negeri ini terus dieksploitasi, rasa keadilan publik tentu layak dipertanyakan.
Jangan sampai kekayaan yang seharusnya menjadi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat justru hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Lebih menyakitkan lagi ketika rakyat kecil yang mencoba bertahan hidup dengan membuka usaha sendiri harus berhadapan dengan berbagai pungutan dan kewajiban pajak.
Pajak memang merupakan instrumen penting bagi negara untuk membiayai pembangunan dan pelayanan publik. Tetapi pajak jangan sampai dirasakan rakyat sebagai cekikan, sementara kebocoran, penyalahgunaan kewenangan, dan praktik mencari keuntungan pribadi justru luput dari pengawasan.
Di sinilah pemerintah harus hadir.
Rakyat tidak meminta belas kasihan. Rakyat meminta keadilan.
Jangan hanya rakyat kecil yang dituntut taat aturan.
Jangan hanya pedagang kecil yang dikejar kewajiban. Jangan hanya usaha rakyat yang diperiksa ketika mencari penghasilan.
Pada saat yang sama, pengelolaan kekayaan alam dan penggunaan kewenangan negara harus diawasi secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kita tentu tidak boleh menuduh semua penguasa sebagai rakus atau semua pejabat sebagai penjarah. Masih banyak aparatur dan pemimpin yang bekerja dengan hati, jujur, dan mengabdi kepada rakyat.
Kritik ini diarahkan kepada oknum yang menyalahgunakan kekuasaan dan mengambil keuntungan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat.
Sebab jabatan bukanlah mahkota untuk memperkaya diri. Jabatan adalah amanah.
Kekuasaan bukan tiket untuk menikmati kekayaan negeri sesuka hati. Kekuasaan adalah tanggung jawab untuk memastikan kekayaan Indonesia benar-benar kembali kepada rakyat dalam bentuk pendidikan yang layak, kesehatan yang baik, lapangan pekerjaan, infrastruktur, dan kehidupan yang bermartabat.
Para pahlawan dahulu menghadapi penjajah dengan senjata seadanya. Mereka tidak bertanya, “Apa yang akan saya dapat setelah Indonesia merdeka?” Mereka justru bertanya, “Apa yang bisa saya korbankan untuk Indonesia?”
Pertanyaan itulah yang semestinya kembali menggema di hati setiap orang yang hari ini memegang kekuasaan.
Jangan sampai rakyat dahulu berkorban demi kemerdekaan, tetapi rakyat hari ini justru menjadi korban atas nama kemerdekaan.
Kemerdekaan seharusnya membuat rakyat berdiri tegak, bukan terus menunduk karena beban hidup.
Dan jika ada kekayaan alam yang diambil, pastikan manfaatnya kembali kepada rakyat. Jika ada pajak yang dipungut, pastikan penggunaannya kembali untuk rakyat. Jika ada jabatan yang dipercayakan, pastikan kekuasaan itu digunakan untuk rakyat.
Karena pada akhirnya, kekuasaan akan berakhir, jabatan akan ditinggalkan, harta akan ditinggalkan, tetapi pertanggungjawaban kepada Tuhan tidak akan pernah bisa dihindari.

Social Header