Bangka Selatan -Focusberita.com
Di tengah senyum, ucapan selamat, dan kebahagiaan ratusan ASN yang baru dilantik menerima jabatan dan penempatan baru, terselip sebuah kisah yang mengundang empati.
Kisah itu datang dari seorang ibu bernama Hamdana.
Saat banyak orang merayakan amanah baru yang diberikan pemerintah, Hamdana justru menyimpan kegelisahan yang berat di dalam hatinya.
Ia menerima mutasi dari tempat tugas di wilayah kota menuju desa.
Sebuah keputusan yang tentu harus dihormati sebagai bagian dari kebijakan organisasi. Namun tidak di balik itu, terdapat kondisi keluarga yang sedang tidak baik-baik saja.
Hamdana saat ini harus mengasuh tiga orang anak yang masih kecil. Di saat yang bersamaan, suaminya baru saja mengalami musibah berat setelah menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal.
Hingga kini, suaminya masih menjalani perawatan dan membutuhkan perhatian serta pendampingan keluarga.
Sebagai seorang ASN, Hamdana memahami bahwa tugas negara harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Namun sebagai seorang istri dan ibu, hatinya juga terpanggil untuk mendampingi keluarga yang sedang menghadapi cobaan besar.
Mengabdi kepada negara itu kewajiban tapi mengabdi kepada suami itu adalah pintu SURGA.
Ia khawatir tidak dapat menjalankan tugas secara maksimal apabila harus bertugas jauh dari keluarga dalam kondisi seperti sekarang.
Dimana jarak tempuh ditempat yang baru mencapai kurang lebih 2,5 jam.
Bukan karena menolak perintah atau menghindari tanggung jawab, tetapi karena ia takut amanah yang diberikan justru tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
Dengan segala kerendahan hati, Hamdana berharap adanya kebijaksanaan dari pemerintah daerah, khususnya Bupati, untuk mempertimbangkan kondisi kemanusiaan yang sedang ia alami.
Sebab terkadang, di balik sebuah keputusan administrasi, ada sisi kemanusiaan yang juga perlu mendapatkan ruang untuk didengar.
Jabatan bisa dipindahkan, penempatan bisa diatur, tetapi seorang ibu yang sedang berjuang menjaga anak-anaknya dan mendampingi suami yang terbaring sakit sedang menghadapi ujian kehidupan yang tidak ringan.
Jika memang tidak ada jalan keluar yang memungkinkan, Hamdana bahkan menyatakan lebih memilih mengembalikan SK yang diterimanya daripada mengambil risiko tidak mampu menjalankan tugas secara optimal.
Kisah ini bukan tentang menolak mutasi atau melawan kebijakan. Ini adalah tentang suara seorang ibu yang sedang berada di persimpangan antara kewajiban kepada negara dan tanggung jawab kepada keluarga.
Semoga setiap kebijakan yang lahir tidak hanya mempertimbangkan aspek birokrasi, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Karena di balik seragam ASN, ada manusia yang memiliki keluarga, air mata, dan perjuangan hidup yang terkadang tidak terlihat oleh banyak orang.
Semoga dengan adanya curahan hati ini bapak bupati Bangka Selatan Riza Herdavid yang kami hormati dapat tergugah hati memberikan kebijakan yang terbaik kepada kami dan keluarga.

Social Header