Breaking News

Rakyat jadi TKI diluar, sementara Asing dapat kerjaan di Negeri Sendiri

Oleh H.Hatomi
Pimpinan Media Sumber Berita 
Focusberita.com

Di negeri ini, ada luka yang tak selalu terlihat, tapi terasa dalam.
Sebuah ironi yang terus berulang, seolah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Rakyat Indonesia berbondong-bondong pergi ke luar negeri.
Bukan untuk berpetualang, bukan pula untuk mengejar mimpi besar—
melainkan untuk bertahan hidup.
Mereka menjadi buruh.
Bekerja di sektor-sektor kasar, rentan, dan sering kali jauh dari perlindungan maksimal.
Demi satu tujuan sederhana: menghidupi keluarga di kampung halaman.

Negara menyebut mereka pahlawan devisa.
Tapi di balik sebutan itu, tersimpan pertanyaan:
mengapa pahlawan harus pergi jauh untuk bisa hidup layak?

Sementara itu, di dalam negeri sendiri, peluang besar justru terbuka bagi tenaga asing.
Mereka datang baik tenaga kasar maupun tenaga ahli berbondong-bondong bisa bangun bandara sendiri, membawa modal, membawa jaringan, dan dengan cepat mendapatkan ruang.

Tidak sedikit yang kemudian menjadi pengusaha, membuka usaha, bahkan menguasai sektor-sektor tertentu.

Di titik inilah ironi itu menjadi begitu nyata—dan menyakitkan.
Rakyat sendiri kesulitan mencari kerja di tanah kelahirannya.
Lapangan kerja terbatas.
Persaingan makin keras.

Namun bagi yang datang dari luar, pintu justru terasa lebih terbuka.
Apakah ini semata soal investasi?

Atau ada sesuatu yang lebih dalam:

Apakah kegagalan negara dalam menyiapkan pekerjaan untuk rakyatnya sendiri?

Negara seharusnya menjadi pelindung dan pemberi peluang.
Bukan sekadar penonton ketika rakyatnya terpaksa pergi,
dan bukan pula fasilitator utama bagi mereka yang datang untuk mengambil peluang.

Lebih ironis lagi,
ketika rakyat kecil mencoba bangkit—membuka usaha, berjuang dari nol—
mereka harus berhadapan dengan pajak, aturan, dan beban yang tak ringan.
Sementara di sisi lain, kemudahan sering kali lebih terasa bagi mereka yang datang dengan modal besar.

Jika keadaan ini terus dibiarkan,
maka yang terjadi bukan hanya ketimpangan—
tetapi perlahan hilangnya rasa memiliki terhadap negeri ini.
Karena bagaimana mungkin rakyat merasa memiliki,
jika untuk hidup layak saja mereka harus pergi,
dan untuk berkembang di negeri sendiri justru terasa semakin sempit?
Ini bukan soal menolak asing.
Ini soal keberpihakan.

Tentang apakah negara berdiri untuk rakyatnya sendiri—
atau justru membiarkan rakyatnya tersingkir di tanah yang seharusnya menjadi rumahnya.
Dan jika pertanyaan ini terus bergema tanpa jawaban,
maka satu hal yang pasti:
yang hilang bukan hanya pekerjaan
tapi harapan untuk hidup di negeri sendiri.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - FOCUS BERITA