Oleh H.HATOMI
Pimpinan Media Sumber Berita
Focusberita.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada dasarnya adalah wajah kepedulian negara terhadap masa depan generasi. Ia bukan sekadar program bagi-bagi makanan—ia adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan, kecerdasan, dan kualitas anak-anak bangsa.
Namun, di balik niat mulia itu, selalu ada dua kemungkinan:
dijalankan dengan amanah, atau diselewengkan dengan rakus.
Jika MBG dikelola dengan baik, disiplin pada SOP, transparan, dan diawasi dengan ketat, maka hasilnya akan luar biasa.
Anak-anak mendapatkan asupan gizi yang layak, tumbuh sehat, belajar dengan fokus, dan kelak menjadi generasi yang kuat secara fisik maupun mental. Negara hadir bukan hanya dalam slogan, tapi nyata dalam piring makan anak-anaknya.
Tetapi sebaliknya—jika program ini dijadikan ladang bancakan, diwarnai mark-up anggaran, pengurangan kualitas bahan, permainan distribusi, hingga praktik kotor demi keuntungan pribadi—maka yang lahir bukan kesejahteraan, melainkan bencana yang pelan tapi pasti.
Anak-anak yang seharusnya dilindungi justru menjadi korban. Makanan yang tak layak, gizi yang tak terpenuhi, bahkan potensi gangguan kesehatan—semua itu adalah harga mahal dari sebuah pengkhianatan.
Lebih dari sekadar pelanggaran administrasi, kecurangan dalam MBG adalah kejahatan moral. Ini bukan soal angka di atas kertas, tapi tentang masa depan anak-anak yang direnggut secara diam-diam. Dan ini merupakan dosa jariyah yang dilakukan.
Mereka tidak punya suara untuk melawan, tapi dampaknya akan mereka rasakan seumur hidup.
Maka, siapa pun yang terlibat dalam pengelolaan program ini harus sadar:
ini bukan proyek biasa. Ini amanah besar. Jangan jadikan dapur anak-anak sebagai tempat memperkaya diri. Karena setiap butir nasi yang dikurangi kualitasnya, setiap rupiah yang diselewengkan, sejatinya adalah hak anak bangsa yang dicuri.
Jika dikelola dengan jujur, MBG akan menjadi ladang pahala dan kebanggaan nasional. Tapi jika dikelola dengan curang, ia berubah menjadi ladang dosa—yang bukan hanya melukai generasi hari ini, tapi juga mengkhianati masa depan negeri.

Social Header