Oleh H.HATOMI
Pimpinan media sumber berita
Focusberita.com
Ada satu hal yang harus kita katakan dengan jujur dan tegas:
sholat yang terlalu cepat bukan tanda hebat, tapi tanda lalai.
Sholat bukan lomba.
Sholat bukan sprint.
Sholat bukan sekadar menggugurkan kewajiban agar cepat kembali ke urusan dunia.
Sholat adalah ibadah paling agung, pertemuan paling mulia antara hamba dan Rabb-nya.
Namun apa yang terjadi hari ini di sebagian masjid?
Bacaan dipercepat.
Gerakan dipangkas.
Ruku’ dan sujud seperti sekadar formalitas.
Makmum baru mau menarik nafas, imam sudah berdiri lagi.
Seakan-akan sholat hanya “ritual singkat” yang harus diselesaikan cepat-cepat.
Padahal sholat itu bukan hanya syari’at, tetapi juga hakikat.
Syari’at Sholat Itu Tidak Bisa Dipotong Sesuka Hati
Dalam syari’at, ada yang namanya tuma’ninah: tenang dalam ruku’, sujud, dan setiap gerakan sholat.
Tuma’ninah bukan sunnah.
Ia bukan pilihan.
Ia adalah bagian dari kesempurnaan bahkan penentu sah atau tidaknya sholat.
Jika imam terlalu cepat, lalu makmum tidak sempat tuma’ninah, maka yang dirusak bukan hanya kekhusyukan, tapi juga ketertiban sholat.
Jangan sampai masjid menjadi tempat sholat berjamaah, tetapi jamaah pulang membawa sholat yang nyaris kosong.
Hakikat Sholat Itu Menghadirkan Allah, Bukan Menghadirkan Waktu
Hakikat sholat adalah hati yang hadir.
Bukan badan yang sekadar bergerak.
Bagaimana mungkin hati bisa hadir kalau bacaan seperti dikejar target?
Bagaimana mungkin makmum bisa meresapi Al-Fatihah kalau imam membaca seperti mengejar deadline?
Sholat itu tempat kita menangis dalam diam.
Sholat itu tempat kita meminta ampun tanpa suara.
Sholat itu tempat kita bersujud membawa beban hidup yang tidak sanggup kita ceritakan kepada manusia.
Tapi semuanya hilang…
ketika sholat dipimpin seperti “acara formal” yang harus cepat selesai.
Imam Itu Pemimpin Ruhani, Bukan Pengatur Kecepatan
Imam bukan hanya orang yang berdiri paling depan.
Imam adalah pemimpin yang memikul amanah jamaah.
Imam mempunyai beban yang berat terhadap jemaahnya.
Imam seharusnya membuat sholat terasa indah.
Membuat jamaah merasakan tenang.
Membuat hati makmum terikat kepada Allah.
Bukan membuat jamaah gelisah, tergesa-gesa, bahkan bingung mengikuti gerakan.
Sebab sholat yang cepat bukan membawa jamaah mendekat kepada Allah, tapi justru bisa membuat jamaah kehilangan ruh sholat itu sendiri.
Jangan Kotori Rumah Allah dengan Sholat yang Asal-Asalan
Masjid adalah rumah Allah.
Tempat paling suci.
Tempat paling mulia.
Tapi jika sholat dipimpin tanpa ketenangan, tanpa tartil, tanpa tuma’ninah, maka masjid seakan dijadikan tempat “formalitas keagamaan” belaka.
Ironisnya, banyak orang rajin sholat, tapi sholatnya tidak membekas.
Kenapa?
Karena sholatnya hanya syari’at yang dipercepat, tanpa hakikat yang dihidupkan.
Sholatnya hanya gerakan tubuh, bukan ketundukan jiwa.
Imam, Perlambatlah… Karena Bisa Jadi Itu Sholat Terakhir Kita
Wahai para imam…
Perlambatlah ruku’mu.
Perlambatlah sujudmu.
Bacalah ayat dengan jelas.
Berilah ruang bagi jamaah untuk berdoa.
Karena bisa jadi, sholat yang kau pimpin hari ini adalah sholat terakhir bagi seseorang di saf belakang.
Bisa jadi itu sholat terakhir bagi orang tua yang sudah lemah.
Bisa jadi itu sholat terakhir bagi orang yang sedang dihimpit masalah.
Bisa jadi itu sujud terakhir sebelum ia pulang menghadap Allah.
Lalu pantaskah kita mempercepat sholat, seolah kita sedang mengejar dunia?
Syari’at Menjaga Bentuk, Hakikat Menghidupkan Ruh
Syari’at tanpa hakikat akan menjadi kering.
Hakikat tanpa syari’at akan menjadi sesat.
Maka sholat harus lengkap:
benar gerakannya, hidup hatinya.
Sholat yang benar akan melahirkan perubahan.
Sholat yang benar akan mencegah maksiat.
Sholat yang benar akan melembutkan jiwa.
Tapi sholat yang terburu-buru hanya melahirkan satu hal:
kebiasaan menggugurkan kewajiban tanpa rasa takut kepada Allah.
Penutup: Sholat Itu Menghadap Raja Segala Raja
Ingatlah…
Kita tidak sedang menghadap manusia.

Social Header