Breaking News

Kenapa Bangka Belitung "Masih Takut" Punya Bank Daerah Sendiri?

Oleh H. HATOMI 
Pimpinan media sumber berita 
Focusberita.com

Sudah 24 tahun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdiri sejak resmi memisahkan diri dari Sumatera Selatan pada tahun 2000. 

Sudah lima kali berganti gubernur, berganti slogan pembangunan, berganti visi ekonomi, berganti rencana besar—tapi ada satu fakta memalukan yang belum berubah sampai hari ini:
Bangka Belitung tidak punya Bank Daerah sendiri.
Ya, tidak punya!

Hari ini pemerintah daerah dan seluruh transaksi keuangan APBD masih dititipkan pada Bank Sumsel Babel—bank yang dulu murni milik Sumatera Selatan lalu kemudian sekadar memberi “embel-embel nama Babel” agar terlihat seolah-olah milik bersama.

Padahal semua orang paham: secara struktur, kendali saham, dan arah kebijakan Bank Sumsel Babel tetap dikendalikan dari Palembang. Babel hanyalah penumpang di rumah sendiri.

Apa Ini Bentuk Ketidakmampuan atau Ketidakberanian Politik?

Pertanyaan ini harus dijawab jujur.
Jangan lagi berdalih soal modal, karena modal pendirian Bank Pembangunan Daerah (BPD) bisa dilakukan bertahap dan kolektif oleh provinsi serta kabupaten/kota.
Jangan lagi berdalih soal risiko, karena semua provinsi lain di Indonesia berani, hanya Babel yang masih menyewa kenyamanan ekonomi di pangkuan provinsi lain.
Jangan lagi berdalih soal SDM, karena tidak akan pernah ada SDM hebat kalau pintu kemandirian ekonomi saja tidak dibuka.

Siapa yang Diuntungkan Jika Babel Tidak Punya Bank Daerah?

✔ Dividen perbankan yang seharusnya kembali menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Babel justru berlabuh ke luar daerah
✔ Kebijakan kredit UMKM tidak sepenuhnya berpihak ke pelaku ekonomi lokal Babel
✔ Setiap transaksi APBD justru memperkuat ekonomi provinsi lain, bukan Babel sendiri
✔ Elite politik nyaman—karena tidak perlu kerja keras membangun pondasi ekonomi daerah

Inilah bahaya ketergantungan perbankan. Babel tidak punya kendali atas uangnya sendiri. Bank Sumsel Babel Bukan Solusi – Itu Kenyamanan semu
Perubahan nama dari “Bank Sumsel” menjadi “Bank Sumsel Babel” hanyalah operasi kosmetik, bukan solusi strategis.
Babel tetap tidak punya daulat ekonomi, tidak punya identitas keuangan daerah, dan tidak punya instrumen fiskal mandiri untuk mengintervensi ekonomi saat krisis.
Kalau hari ini Babel bangga memakai nama di belakang bank orang lain, itu bukan kemajuan itu tanda inferioritas ekonomi.

Saatnya Berani – Dirikan Bank Babel

Pemerintah provinsi harus mengambil langkah sejarah: 
✅ Bentuk Bank Pembangunan Daerah Bangka Belitung
✅ Libatkan pemegang saham daerah: provinsi + 7 kabupaten/kota
✅ Arahkan sebagai bank pembangunan untuk UMKM, nelayan, petani, dan ekonomi maritim
✅ Kelola secara profesional, bukan untuk bancakan politik
✅ Rekrut SDM lokal terbaik

Jangan Lagi Ditunda

Selama Bangka Belitung tidak punya bank daerah milik sendiri, selama itu pula provinsi ini hanya menjadi pasar ekonomi, bukan pemain.
Selama Babel hanya numpang nama di Bank Sumsel Babel, harga diri daerah ini tetap murah di mata ekonomi nasional.

Pertanyaannya tinggal satu :
Apakah pemimpin Babel berani meninggalkan warisan sejarah untuk rakyat, atau hanya mau sekadar numpang tanda tangan APBD setiap tahun?
Karena kemandirian ekonomi dimulai dari keberanian mengatur uang sendiri. Dan Babel belum berani—sampai hari ini.

*Tulisan ini dibuat untuk kemajuan Bangka Belitung, Mohon maaf jika ada yang merasa dirugikan.
Hak jawab atau koreksi bisa menghubungi kami di 081278339009
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - FOCUS BERITA